Paradigma Definisi Sosial
Secara etimologi, istilah sosiologi berasal dari gabungan dua
kata latin, socius dan logos. Dalam bahasa latin socius memuat arti masyarakat dan kawan,
sedangkan kata logos berarti pikiran
dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, sosiologi dapat didefinisikan sebagai
satu disiplin ilmu pengetahuan yang mempelajari, mengkaji, dan membahas
masyarakat atau berkawan.
Namun,
pendapat serta teori-teori yang dikemukakan para sosiolog mengenai pengertian
sosiologi dan hakikat/makna sosiologi berbeda-beda. Adanya perbedaan mengenai
pengertian sosiologi tersebut juga karena adanya perbedaan paradigma tentang
sosiologi.
Paradigma adalah cara pandang orang terhadap diri dan
lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan
bertingkah laku. Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, dan
praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang
sama. Paradigma dalam konteks ilmu sosial mengacu pada konsep dan pemikiran
Thomas S.Khun di dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolutions (1962). Menurut Thomas Khun
(Veeger, 1993: 22), paradigma adalah pandangan yang mendasar tentang apa yang
menjadi pokok persoalan dalam ilmu pengetahuan (sosial) tertentu.
Sosiologi sendiri dikenal sebagai ilmu berparadigma ganda
(Ritzer, 2008, Apendik: 13). Dalam buku yang berjudul: Sociology; A Multiple Paradigm Science (1980), George Ritzer,
menjelaskan tiga paradigma yang dikenal dalam sosiologi selama satu setengah
abad terakhir ini (Veeger, 1993: 23). Ketiga paradigma tersebut adalah:
(1) paradigma fakta sosial
(2) paradigma definisi sosial
(3) paradigma perilaku sosial
Pada kesempatan ini akan banyak membahas mengenai paradigma
definisi sosial. Namun sebelumnya akan dibahas paradigma fakta sosial secara
garis besar.
A.
Paradigma Fakta Sosial
Fakta
sosial adalah cara bertindak baik baku maupun tidak yang dapat berlaku pada
individu yang mana sebuah paksaan dari eksternal. Sedangkan paradigma fakta
sosial mengkontruksi ilmu pengetahuan sosiologi dari sisi fakta sosial dan yang
dikaji adalah fenomena yang terkait fenomena, dinamika, konflik, dan interaksi
sosial yang dilihat dari sudut pandang makro.
B.
Paradigma Definisi Sosial
Prinsip rasionalitas memberikan suatu landasan
kuat terhadap paradigma definisi sosial yang didasarkan pada karya Max Weber.
Menurut paradigma ini yang dianggap sebagai suatu kenyataan sosial yaitu
“tindakan sosial”. Paradigma
definisi sosial juga
memiliki pandangan dasar yang
bersifat subjektivitas. Berbeda dengan
Paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial tidak berangkat dari sudut
pandang fakta sosial yang objektif. Namun, paradigma definisi sosial berangkat
dari pemikiran individu sebagai subjek.
Dalam merancang
dan mendefinisikan makna dan interaksi sosial, individu dilihat sebagai pelaku
tindakan yang bebas tetapi tetap bertanggung jawab. Artinya, di dalam bertindak
atau berinteraksi itu, seseorang tetap di bawah pengaruh bayang-bayang struktur
sosial dan pranata-pranata dalam masyarakat, tetapi fokus perhatian paradigma
ini tetap pada individu dengan tindakannya itu (Veeger, 1993: 24). Jadi, paradigma ini berbicara mengenai
perilaku atau tindakan individu yang mampu menciptakan sebuah realitas sosial
tersendiri. Contoh dari paradigma definisi sosial adalah ketika seorang
karyawan berjuang dan mengasah kemampuannya di dalam pekerjaannya dengan giat
agar mendapat jabatan yang lebih tinggi, sehingga benar dia bisa menjadi
penguasa bukan karyawan lagi.
Teori-teori yang terkandung dalam paradigma definisi sosial
antara lain:
1.
Teori Aksi
Mempunyai kecenderungan kesejajaran dengan
Weber, dan mempunyai arti yang sangat penting dalam pengembangan teori
interaksi simbol dan teori fenomenologi. Teori Aksi mengalami perkembangan yang
pesat di Amerika lewat karya Florian Znaniecki (The Method of Sociology, Social
Actions), Robert M. Mac Iver (Society: Its Structure and Changes), Talcott
Parsons (The Structure of Social Action). Menurut Hinkle, tokoh-tokoh tersebut
merupakan sosiolog yang mempunyai kecenderungan berpikir yang dilatarbelakangi
pemikiran Eropa yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh teori aksi Pareto,
Durkheim, dan Weber. Selanjutnya, bertolak dari karya sosiolog yang mempunyai
latar belakang pemikiran Eropa tersebut Hinkle mengemukakan anggapan dasar
teori aksi, yaitu
a. Tindakan manusia didorong oleh kesadaran diri
sendiri dan pengaruh dari luar dirinya,
b. Tindakan manusia itu bertujuan,
c. Tindakan manusia itu menggunakan cara,
prosedur, teknik dan alat,
d. Tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi
yang tidak diubah dengan sendirinya,
e. Tindakan manusia berdimensi tiga, yaitu yang
menyangkut masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang,
f. Tindakan manusia dalam pengambilan keputusan
dibimbing oleh norma-norma moral, serta
g. Penelitian tentang antarhubungan sosial
menggunakan verstehen (pemahaman) dan imajinasi.
2.
Teori Interaksi
Simbol
Dalam proses pendekatannya sejalan dan
cenderung mengikuti cara yang dilakukan Weber dalam teori aksi. Dua orang tokoh
yang terkenal dari teori interaksi simbol adalah John Dewey dan Charles Horton
Cooley. Adapun pandangan dasar dari teori tersebut ialah menolak behaviorisme yang dipelopori oleh J.B.
Watson. Teori tersebut, dalam mengadakan pendekatan sosial menggunakan
introspeksi untuk mengetahui latar belakang tindakan pelakunya. Suatu hal yang
penting dalam teori interaksi simbol ini adalah kemampuannya untuk memberikan
interpretasi terhadap stimulus (rangsangan) yang ada dalam interaksi simbol.
3.
Teori
Fenomenologi
Beranggapan bahwa perilaku manusia menjadi
satu hubungan sosial, apabila manusia memberikan makna tertentu terhadap
tindakannya sebagai sesuatu yang berarti karena hal tersebut adalah merupakan
sesuatu yang menentukan terhadap kelestarian interaksi sosial.
Tokoh Paradigma Definisi Sosial
Salah satu tokoh yang sangat populer dalam paradigma definisi sosial adalah Max Weber. Dalam analisisnya tentang tindakan sosial (social action), Weber memperkenalkan konsep tentang makna suatu tindakan. Inti tesisnya adalah bahwa suatu "tindakan manusia itu penuh dengan arti." Oleh karena itu, Weber diklasifikasikan sebagai salah satu tokoh yang menghasilkan teori yang dapat dikategorikan ke dalam paradigma definisi sosial. Selain Weber, tokoh yang hendak dijelaskan dalam paradigma definisi sosial ini adalah teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman, teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead dan Herbert Blumer, teori etnometodologi (Ritzer, 2008: A14). Teori Giddens tentang strukturalisasi oleh Waters dikelompokkan dalam kategori agensi. Teori fenomenologi buah karya sosiolog Jerman Edmund Husserl juga masuk dalam paradigma definisi sosial ini.
Wirawan, Ida Bagus. 2012. Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma:
Kencana
Ritzer, G.
2007. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Muttaqin,
Husnul. 2015. “Menuju Sosiologi Profetik”: Jurnal
Sosiologi Reflektif 10
Faradhiba, Aul. 2019. “Paradigma
Definisi Sosial”, https://misekta.id/news/paradigma-definisi-sosial,
Wagiyo. “Paradigma Sosiologi dan Teori Pendekatannya”, https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/SOSI4206-M1.pdf,
Komentar
Posting Komentar